Teras utama, kalau ada jajanan “tukang bakso” langganan, “tukang mie tek-tek” duduk2x diteras ini enak…disiang hari kira2x pukul 12:00 – 14:00 bayangan2x dari pohon2x didepan halaman menjulang menutupi sinar matahari yang terik. Cerita soal tukang bakso, pasti teringat dengan “Anjing nyasar tak bertuan” warnanya cokelat, betina, ya ampun “jinak”, diberdayakan menjadi satpam :) dengan imbalannya “Tulang sapi” beli ditukang bakso ini…*tidak ada pemulung yang berani melenggok-lenggok ke kawasan rumah. Namanya “Bleki”
Disalah satu pojok halaman utama dihiasi berbagai tanaman hias dibalut dekapan pot2x besar yang bernuansa 80 (Potnya ditempeli bermacam warna dari pecahan beling, ada juga ditempeli bebatuan kecil), ada cemara mini, Wijaya Kusuma – oleh2x dari Negeri Papua, Melati, dll.
Ada juga salah satu ujung dari lantai atas ini terdapat rongga2x dibagian antar keramiknya, karena sering terkena air hujan, sehingga terasa tekstur kasar dipermukaan keramiknya. rongga2x tersebut dimanfaatkan tempat celengan uang receh. Tahun 1980 uang receh 25,50 & 100 tebal2x. :) tidak kesampaian uang receh tersebut suatu kelak nanti dijaman yang serba canggih akan dikorek untuk dikeluarkan dari sang rongga keramik….
Teras Halaman, tempat penuh nuansa kenangan, halamanya luas, didepan bagian depan pintu dapur lantai halaman ini agak berlumut – licin, karena jarang tersentuh telapak kaki, katanya dibagian lapisan lantai ini adalah “sepiteng” pembuangan t**j* jadi seIsi rumah tidak ada keberanian bermain-main dibagian ini. *kebenaranya sampai saat ini belum dibuktikan :)
Dekat bagian pintu utama, ada tempat pembuangan air hujan, melalui pipa yang terpasang dari atap ke tempat pembuangan air hujan ini air hujan terus disalurkan tembus ke selokan tepat didepan rumah. Karena tempat pembuangan air ini lokasinya startegis, maka daripada itu seisi rumah memanfaatkan juga sebagai media pembuangan sampah :) kelamaan sudah berubah fungsi, dan yang lebih menyenangkan media pipa ternyata juga bisa dijadikan bahan eksperimen bocah2x, kertas2x dibuat bulat seperti bola & dimasukkan ke dalam ujung pipa lalu dibakar..aneh bin ajaib ada suaranya seperti kapal capung, diatas sana asap hitam membumbung keluar dari ujung pipa, biasanya bocah2x tertawa puas sambil bertepuk tangan tanda eksperimennya berhasil :)
Menjelang pagi hari, biasanya seisi rumah terheran-heran banyak mayat2x bergelimpangan diantara pembatas antara lantai atas dan lantai halaman. Mayat kodok bergelimpangan, awalnya penyebab kematian sang katak tak diketahui, selidik punya selidik ternyata “kucing kesayangan” doyan bercanda dengan sang kodok tiap malam, apalagi jika musim penghujan. Nama kucingpun berubah menjadi “Froggy” keturunannya pun menyandang nama tersebut, karena kebiasan itu tetap dilestarikan…. :)
Dibagian pembatas antara lantai atas dan lantai halaman juga terdapat besi2x yang dibuat & dipasang sedemikian rupa sehingga bisa dikaitkan oleh tambang, fungsinya jelas tidak tahu sampai sekarang apa manfaatnya, tapi itu menjadi otentik era rumah 1980-an.
Sejajar dengan tanaman2x hias, ada tempat membasuh muka, kaki (kalau bulan Ramadhan diam2x merayap membuka kran air untuk berpura mencuci muka tapi menelan air krannya hahahaha…). Iyah kran air yang unik, pipa besi berdiri kokoh kira2x tingginya 40cm ujungnya putaran kran, airnya sejuk, disampingnya tanaman hias berkuncup merah bentuknya seperti tombak2x kecil, dan disamping tanaman hias tsb ada Pot lengkap dengan Bunga Sedap Malamnya…….
