Arsip untuk Cyd@Art kategori

Apel

Posted in Cyd@Art on Februari 26, 2009 by indracyd
Keluarga Besar

Keluarga Besar

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi.” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi.” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku.. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu.” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi denganku.” kata pohon apel.. “Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah .” Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.” “Tak apa.. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.” Jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.” Kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu.” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.” Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang.” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.” Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apapun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan.  Dan yang terpenting cintailah orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya, dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Story@Mail My Ciput

Cyd!

MENGHAPUS FILE PENGGANGGU [Thumbs.vbs & Autorun.inf]

Posted in Cyd@Art on Agustus 26, 2008 by indracyd

Kenapa judulnya FILE PENGGANGGU?bukan ‘Virus’ atau ‘Worm‘ sepengetahuan dan pengalaman Cyd!beberapa Antivirus kenamaan, diantaranya seperti Symantec Corp Edition, Norton, dll tidak mendeteksi hal tsb [thumbs.vbs] sebagai virus ataupun worm, dan sampai artikel ini dibuat Cyd! belum menemukan ‘Nama’ atau ‘Julukan’ bagi si pengganggu ini.

Jika PC Anda terinfeksi oleh file ini, jangan panik karena tidak akan merusak, menghapus file dokumen ataupun merusak sistem. Biasanya efek samping jika terinfeksi file ini, setiap partisi yang ada di PC kita akan terkunci [tidak akan bisa didouble klik maupun diklik kanan ‘explore’ satu2nya jalan adalah lewat Windows Explorer.

Ok langsung HOWTOnya, PC anda harus dalam kondisi 3 step dibawah ini

  1. Pastikan System Restore pada PC Anda menjadi Turn off

    Klik kanan My Computer – pilih Properties – cari Tab System Restore – checklist Turn off system restore for all drive.

  2. Matikan Autoruns pada semua drive.

    Klik Start – pilih Run – pada kolom Run ketik gpedit.msc – klik User Configuration – klik Administrative Templates – klik System – cari Turn off Autoplay – cheklist bagian Enable – pilih All Drive pada opsi Turn off Autoplay on…

    * U/ melakukan hal diatas posisi user di PC Anda harus Administrator atau setara Administrator

  3. Aktifkan Show hidden files and folders

    Double klik My Computer – pilih Tools – Folder options – View – checklist bagian Show hidden files and folders.

Ok broer saatnya beraksi…

  1. Pada keyboard tekan Ctrl – Alt – Del – pilih Task Manager – pilih Tab Processes – cari & klik proses wscript.exe – klik End Process.

  2. Klik Start – pilih Run – pada kolom Run – ketik msconfig – pilih Tab Startup – cari dan uncheck Thumbs – klik Ok – pilih Exit Without Restart.

  3. Cek satu persatu partisi yang ada di PC kita, misalkan PC Cyd! Ada 3 partisi yakni C:\, D:\, E:\ . Pertama di C:\ DELETE *Delete secara permanen file Thumbs.vbs & autorun.inf, kedua di C:\WINDOWS delete file Thumbs.vbs selanjut partisi2x berikutnya, seperti D:\ & E:\

  4. Restart PC Anda, cek kembali langkah2x pada 4 – 5 – 6 apakah masih timbul file si pengganggu tsb kalau tidak ada, Hidup Cyd! :) kalau file tsb masih ngotot ada ulangi langkah 4 – 5 – 6

Anda tetap harus waspada terhadap media yang ada hubungannya dengan ‘memori’ atau ‘storage‘, seperti flashdisk, HP, kamera digital, dll, karena 2 hal yang disebutkan terakhir HP & kamera digital sudah menggunakan storage yang umum digunakan di PC & itu menjadi sumber penyebaran virus maupun worm. Selalu Update Antivirus yang Anda miliki.

Mungkin Anda akan menemukan problem yang tidak sama, karena variant2x dari file pengganggu ini terus mengUpgrade dirinya, namun secara umum langkah2x pembersihannya tidak akan jauh berbeda.

 

We Support You – IT Dept

Cyd! 2008

1980 / II

Posted in Cyd@Art on Maret 26, 2008 by indracyd

             Teras utama, kalau ada jajanan “tukang bakso” langganan, “tukang mie tek-tek” duduk2x diteras ini enak…disiang hari kira2x pukul 12:00 – 14:00 bayangan2x dari pohon2x didepan halaman menjulang menutupi sinar matahari yang terik. Cerita soal tukang bakso, pasti teringat dengan “Anjing nyasar tak bertuan” warnanya cokelat, betina, ya ampun “jinak”, diberdayakan menjadi satpam :) dengan imbalannya “Tulang sapi” beli ditukang bakso ini…*tidak ada pemulung yang berani melenggok-lenggok ke kawasan rumah. Namanya “Bleki”

            Disalah satu pojok halaman utama dihiasi berbagai tanaman hias dibalut dekapan pot2x besar yang bernuansa 80 (Potnya ditempeli bermacam warna dari pecahan beling, ada juga ditempeli bebatuan kecil), ada cemara mini, Wijaya Kusuma – oleh2x dari Negeri Papua, Melati, dll.
Ada juga salah satu ujung dari lantai atas ini terdapat rongga2x dibagian antar keramiknya, karena sering terkena air hujan, sehingga terasa tekstur kasar dipermukaan keramiknya. rongga2x tersebut dimanfaatkan tempat celengan uang receh. Tahun 1980 uang receh 25,50 & 100 tebal2x. :) tidak kesampaian uang receh tersebut suatu kelak nanti dijaman yang serba canggih akan dikorek untuk dikeluarkan dari sang rongga keramik….

 Teras Halaman, tempat penuh nuansa kenangan, halamanya luas, didepan bagian depan pintu dapur lantai halaman ini agak berlumut – licin, karena jarang tersentuh telapak kaki, katanya dibagian lapisan lantai ini adalah “sepiteng” pembuangan t**j* jadi seIsi rumah tidak ada keberanian bermain-main dibagian ini. *kebenaranya sampai saat ini belum dibuktikan :)

               Dekat bagian pintu utama, ada tempat pembuangan air hujan, melalui pipa yang terpasang dari atap ke tempat pembuangan air hujan ini air hujan terus disalurkan tembus ke selokan tepat didepan rumah. Karena tempat pembuangan air ini lokasinya startegis, maka daripada itu seisi rumah memanfaatkan juga sebagai media pembuangan sampah :) kelamaan sudah berubah fungsi, dan yang lebih menyenangkan media pipa ternyata juga bisa dijadikan bahan eksperimen bocah2x, kertas2x dibuat bulat seperti bola & dimasukkan ke dalam ujung pipa lalu dibakar..aneh bin ajaib ada suaranya seperti kapal capung, diatas sana asap hitam membumbung keluar dari ujung pipa, biasanya bocah2x tertawa puas sambil bertepuk tangan tanda eksperimennya berhasil :)

Menjelang pagi hari, biasanya seisi rumah terheran-heran banyak mayat2x bergelimpangan diantara pembatas antara lantai atas dan lantai halaman. Mayat kodok bergelimpangan, awalnya penyebab kematian sang katak tak diketahui, selidik punya selidik ternyata “kucing kesayangan” doyan bercanda dengan sang kodok tiap malam, apalagi jika musim penghujan. Nama kucingpun berubah menjadi “Froggy” keturunannya pun menyandang nama tersebut, karena kebiasan itu tetap dilestarikan…. :)
Dibagian pembatas antara lantai atas dan lantai halaman juga terdapat besi2x yang dibuat & dipasang sedemikian rupa sehingga bisa dikaitkan oleh tambang, fungsinya jelas tidak tahu sampai sekarang apa manfaatnya, tapi itu menjadi otentik era rumah 1980-an.

              Sejajar dengan tanaman2x hias, ada tempat membasuh muka, kaki (kalau bulan Ramadhan diam2x merayap membuka kran air untuk berpura mencuci muka tapi menelan air krannya hahahaha…). Iyah kran air yang unik, pipa besi berdiri kokoh kira2x tingginya 40cm ujungnya putaran kran, airnya sejuk, disampingnya tanaman hias berkuncup merah bentuknya seperti tombak2x kecil, dan disamping tanaman hias tsb ada Pot lengkap dengan Bunga Sedap Malamnya…….

1980 / I

Posted in Cyd@Art on Maret 25, 2008 by indracyd

                Kalendar saat itu menampilkan ilustrasi sesosok wanita dengan gaya  & pakaian yang khas 80-an (atasan berwarna merah,roknya masih dibawah lutut, dengan giwang yang bulat besar, gincunya pun seMerah delima,dengan gelang2x yang menumpuk dan berwarna-warni), dipadu dengan pemandangan dengan ukuran yang besar, tertera dibawahnya deretan angka lengkap dengan hari dan tanggalan merah yang menunjukan hari Libur. Dipojokan kirinya dengan huruf cetakan tebal tahun tertera “1988″…..

Flashback..di 80-an

              Dimulai dengan Ruang….
Ruang kondisi rumah, lega – lebar, asri – sejuk. Halaman yang luas merupakan areal yang identik diera-80-an. Hampir separo dari luas rumah, halaman adalah ruang bebas terluas, *lumayan berOlahraga sambil sapu-sapu dipagi hari… :)
Dibagian wajah rumah, terdapat 2 pintu kayu dengan corak bergaris model minimalis*dulu belum dikenal konsep minimalis…
1. Pintu pertama sebagai pintu utama
2. Pintu kedua sebagai Pintu dapur *berguna juga jika sedang ada cekcok, dengan alasan menghindar lewat pintu dapur.

Tidak ada pintu darurat atau pintu belakang. Yang paling khas dimuka rumah ini adalah, dinding ornamen “Pak Tani” dindingnya berwarna kuning, kalau tidak salah menduga “materialnya terbuat dari batu kapur”, karena rumah ini sudah cukup tua, ornamen Pak Taninya sudah mengelupas dibagian kaki-kakinya…
             Yang kedua khasnya adalah jendela2x nan besar ukurannya dibalut “hordeng” berwarna merah ukurannya lebih besar dari jendelanya…*kalau menjelang larut malam seisi rumah saling risi siapa yang ikhlas mau merapatkan jendela2x. Persis disisi rumah terdapat “kolam” yang sudah tak dipergunakan lagi, sudah beralih fungsi menjadi tempat menyimpan “jemuran” yang terbuat dari besi – beratnya minta ampun…tapi lucu juga karena didampingi oleh “jemuran kecil” sebutan untuk jemuran yang berukuran mini warnanya sama putih..dan sampai 2008 ini masih ada masih digunakan!. Semasa kecil jemuran mini ini bisa multifungsi selain tempat menjemurkan pakaian, kalau pakaian diangkut dari jemuran kecil ini, dibuat mainan pun bisa dengan berkhayal, naik pesawat ataupun mobil, motor….

Jemuran besar @pagi dipindah kebagian yang terkena sinar matahari, kalau hujan dipindah ke kolam lagi…hujan besar air hujan kadang masuk kolam – ini yang bikin “hepi” byyyyuuurrrr..berenang-renang kecil….Kolam pun tidak melulu untuk menyimpan jemuran besar, menjelang Idul Fitri kolam tempat penyimpanan daun2x kelapa….u/ dibuat “Ketupat” biasanya digelar tikar, anggota keluarga bercengkrama sambil membuat ketupat dikolam ini…
 Seperti “rumah panggung”, bagian rumah lebih tinggi dari jalan, jadi no way air hujan masuk kedalam rumah.

 Teras halaman dibagi 2.
1. Teras utama ini yang lebih tinggi dari jalan
2. Teras Halaman sejajar dengan jalan jadi kalau hujan mau tidak mau bersapu-sapu membersihkan halaman yang cukup luas….